DARI PENULIS KE PEMBACA: TELAAH KETERHUBUNGAN EKOSISTEM LITERASI DI JAMBI
Bayangkan literasi sebagai sebuah anak panah yang diarahkan menuju sasaran. Pemerintah menjadi pelatuk yang menyediakan daya dorong, penulis menjadi dudukan yang menopang proses penciptaan, sedangkan penerbit dan komunitas berada di sekitar batang panah, membantu karya bergerak menuju pembaca. Pembaca menjadi sasaran akhir perjalanan anak panah. Di Jambi hari ini, anak panah itu sesungguhnya telah meluncur, tetapi daya lemparnya belum mendarat dengan tepat pada sasaran. Penulis terus bermunculan dengan ragam karya, penerbit lokal terus menerima pesanan cetak, dan komunitas baca aktif menghidupkan ruang-ruang publik. Persoalannya bukan lagi pada ketidakhadiran para pelaku, melainkan pada kerapuhan jalinan di antaranya.
Di Jambi, aktivitas literasi tumbuh melalui beragam jalur. Penulis menghasilkan karya sastra, buku pengetahuan hingga tulisan yang merekam sejarah dan kebudayaan daerah. Penerbit lokal membantu mewujudkan naskah menjadi buku, sedangkan komunitas membangun ruang pertemuan bagi penikmat baca-tulis. Sekolah, perguruan tinggi, dan perpustakaan turut menyediakan akses bacaan. Pemerintah memiliki kapasitas intervensi melalui kebijakan dan anggaran. Banyaknya pintu masuk ini membuktikan bahwa minat dan daya cipta di Jambi tidak pernah surut. Namun, pintu-pintu tersebut sering kali berdiri sendiri-sendiri tanpa lorong yang menghubungkan satu sama lain.
Penulis menempati posisi sentral karena melalui jemari, ide-ide ditransformasikan menjadi pengetahuan publik. Dalam praktiknya, genre sastra dan dokumentasi budaya mendominasi karya-karya yang dihasilkan. Akan tetapi, produktivitas tersebut sering kali terhenti setelah proses cetak. Tanpa ekosistem yang mengulas dan membicarakannya kembali, karya-karya berisiko meredup lebih cepat menjadi koleksi pribadi, cenderamata atau mengendap dalam lingkaran kerabat yang terbatas.
Persoalan penerbitan di Jambi pun bertumpu pada keberlanjutan dan saluran pamer karya. Walau penerbit lokal aktif bergerak dan memanfaatkan media sosial serta ruang pamer fisik mandiri, kita masih menghadapi muara distribusi yang timpang. Belum tersedia toko buku fisik atau ruang pamer khusus yang secara konsisten menampung, memajang, dan memasarkan buku-buku karya penulis Jambi. Akibatnya, keterhubungan antara penerbit dan pembaca terputus di tengah jalan. Buku lokal sulit ditemui di ruang-ruang publik utama. Penjualannya sangat bergantung pada inisiatif pribadi penulis atau momen kegiatan tertentu.
Dari sisi pembaca, geliat literasi sebenarnya menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan. Kebutuhan akan bacaan yang dekat dengan realitas makin dirasakan, terutama untuk mengenalkan akar budaya kepada generasi muda. Namun, kehadiran buku lokal di tengah masyarakat belum didukung oleh keterjangkauan yang merata. Buku-buku tentang sejarah, bahasa, dan sastra Jambi seharusnya hadir di tempat-tempat yang mudah diakses dan diperkenalkan lewat cara yang memikat agar kegiatan membaca tidak dipersepsikan sebagai beban akademis semata, melainkan sebagai kebutuhan mengenali jati diri.
Komunitas literasi di Jambi berkontribusi besar sebagai penyambung lidah antara karya dan pembaca. Tumbuhnya tradisi membaca dan berdiskusi di taman-taman kota, kafe, hingga kantong-kantong komunitas di daerah menjadi sinyal positif bahwa literasi bisa hadir secara karib dan inklusif. Kendati demikian, tantangan komunitas di Jambi ialah menjaga keberlanjutan serta memperluas jangkauan. Diskusi yang ramai di pusat kota perlu terus ditautkan dengan gerakan akar rumput di berbagai wilayah. Harapannya, kegiatan membaca menjadi gaya hidup di lingkungan yang lebih luas.
Di tengah dinamisnya gerakan komunitas dan penulis, sektor akademisi dan kritikus di Jambi justru belum mengambil peran secara optimal. Perguruan tinggi, khususnya program studi sastra dan bahasa, memiliki otoritas intelektual untuk menjadikan karya-karya lokal sebagai objek penelitian, kajian kritis, dan bahan pengajaran. Sayangnya, iklim akademis kerap kali masih terkungkung pada nama-nama besar berskala nasional alih-alih ikut membesarkan nama-nama dan karya dari daerahnya sendiri. Ketika akademisi dan kritikus absen dalam ruang pembicaraan publik, karya penulis Jambi kehilangan resonansi kritisnya. Padahal, ulasan, resensi, dan penelitian akademis adalah jembatan vital yang memberi bobot dan memperluas daya jangkau sebuah buku di tengah masyarakat.
Pemerintah daerah memegang posisi strategis untuk menghadirkan daya dorong yang berkesinambungan. Dukungan pemerintah tidak boleh berhenti pada penyelenggaraan acara seremonial atau pembagian buku secara instan. Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten/Kota di Jambi perlu hadir melalui program-program yang betul-betul menjawab kebutuhan dasar ekosistem, mulai dari fasilitasi biaya penulisan, bantuan penerbitan/pencetakan buku-buku bermutu lokal, penyediaan ruang diskusi yang layak, hingga pengadaan buku lokal untuk perpustakaan sekolah dan daerah yang berbasis pemetaan kebutuhan riil.
Ekosistem literasi di Jambi membutuhkan fondasi kebijakan yang kokoh. Keberadaan Peraturan Daerah (Perda) atau Peraturan Gubernur (Pergub) tentang Literasi menjadi krusial sebagai “rumah” dan payung hukum. Regulasi ini akan memberikan kepastian arah, tata kelola, serta jaminan alokasi anggaran bagi pengembangan literasi daerah. Dengan adanya payung hukum yang jelas, kerja sama lintas sektor dapat dilembagakan. Pemerintah memfasilitasi dan menjamin regulasi, penerbit dan toko buku menyediakan akses karya, komunitas menghidupkan ruang baca, akademisi memberi bobot kajian, dan sekolah menjadi muara penyemaian pembaca baru.
Tolok ukur keberhasilan literasi di Jambi perlu digeser. Keberhasilan tidak lagi cukup dinilai dari berapa banyak judul buku yang berhasil dicetak, berapa kali festival diselenggarakan, atau berapa jumlah perpustakaan yang dibangun. Kita perlu melihat sejauh mana karya lokal beredar di tengah warga, sejauh mana kampus meneliti naskah-naskah daerahnya, dan seberapa kuat jalinan antar-pelaku bertahan setelah sebuah program berakhir. Pemetaan yang jujur terhadap celah-celah ini hanya dapat dilakukan dengan melibatkan para pelaku lapangan yang memahami hambatan nyata di darat.
Perjalanan dari penulis ke pembaca adalah sebuah ikhtiar bersama. Anak panah literasi Jambi tidak akan mendarat dengan presisi jika masing-masing bagian bergerak tanpa koordinasi. Penulis, penerbit, komunitas, akademisi, dan pemerintah harus bekerja dalam satu sistem yang saling menguatkan. Melalui kehadiran regulasi daerah yang tegas, ketersediaan ruang pamer dan distribusi, serta dorongan kritis dari dunia akademis, karya-karya lokal Jambi tidak sekadar berhenti di meja cetak, tetapi benar-benar meluncur jauh, menemukan pembacanya, dan memberi warna pada kehidupan masyarakat.
Penulis : Oky Akbar (Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia Komisariat Jambi)
Editor : Ridho Amanta Rajak
