Menjaga Dapur Sendiri, Merawat Panggung Bersama
Keberhasilan sebuah sanggar seni tak hanya diukur dari karya, panggung atau piala yang diraih. Peran tersentralnya terletak pada seberapa luas sanggar mampu menghidupkan ekosistem kesenian di sekitarnya. Sanggar tidak boleh bergerak terisolasi sebagai menara gading. Sanggar perlu hadir sebagai ruang tumbuh yang menyambungkan gagasan, mematangkan seniman muda, dan membagikan panggung bagi komunitas lain.

Pembelajaran seni tari di tingkat akar rumput membutuhkan ekosistem bertumbuh yang berkelanjutan. Latihan rutin di dalam sanggar membentuk pondasi teknik dan pembentukan karakter penari. Kendati demikian, proses belajar akan mandek bila tidak ditunjang oleh iklim pertunjukan yang sehat. Tanpa ruang jumpa penonton yang rutin, kerja latihan berisiko berhenti sekadar sebagai rutinitas internal daripada menjadi bagian dari rantai produksi artistik yang hidup.
Kebutuhan akan jam terbang menjadikan festival inisiatif sanggar amat krusial. Berbeda dari helatan birokrasi yang bergantung pada kalender anggaran dan kerap kaku, festival bentukan sanggar lahir dari kebutuhan riil komunitas. Contoh nyata terperagakan melalui Padepokan Seni Bagong Kussudiardja di Yogyakarta. Melalui program Jagongan Wagen dan Festival Panggung Komunitas, lembaga yang didirikan oleh maestro Bagong Kussudiardja ini konsisten menyediakan panggung serta residensi berkala bagi seniman muda lintas daerah untuk menguji karya eksperimental mereka.
Semangat serupa tumbuh kukuh di Sumatera melalui Sanggar Sekintang Dayo di Jambi. Di samping menjalankan pelatihan berjenjang dan penciptaan karya mandiri bersama koreografer Eri Argawan serta tim pemusiknya, mereka mengorganisasi festival tari tahunan Lah Puar Jelupung Tumbuh. Memasuki penyelenggaraan ke-XIV, festival ini terbukti mengisi kekosongan ruang pertunjukan independen dan memberi panggung berkala bagi sanggar-sanggar di sekitarnya untuk menempa kepenarian serta kualitas karya.
Keberlanjutan festival Lah Puar Jelupung Tumbuh mendudukkan Sekintang Dayo dalam level kelas tersendiri. Ketika mayoritas sanggar di Jambi masih disibukkan oleh rutinitas latihan internal atau berburu gelar di panggung perlombaan, Sekintang Dayo melangkah lebih jauh dengan membentangkan panggung bagi kelompok lain. Keberanian mengambil peran sebagai penyelenggara wadah bersama ini menegaskan posisinya sebagai salah satu pelopor pergerakan sanggar tari di Jambi.
Eksistensi menjaga kelasnya sempat diuji ketika kondisi kesehatan Eri Argawan menurun bersamaan dengan masa purnatugas beliau sebagai ASN. Masyarakat seni di Jambi sempat menanti dengan ragu bagaimana nasib dan kepemimpinan sanggar ini ke depan. Lah Puar Jelupung Tumbuh 2026 secara lugas menjawab segala keraguan tersebut. Roda organisasi dan semangat pengabdian seni Sekintang Dayo tetap berdenyut kencang.
Kerja keras di balik keberhasilan helatan tahunan sama sekali tidak sederhana. Merancang sebuah festival menuntut keahlian merumuskan tema yang bernas, membangun relasi dengan sponsor, hingga menjalin komunikasi dengan pemerintah daerah. Urusan pendanaan dan ketersediaan hadiah lomba kerap menjadi beban berat yang sangat merepotkan bagi sanggar dengan sumber daya terbatas. Pengorbanan dan daya tahan di tengah keterbatasan itulah yang membuat Lah Puar Jelupung Tumbuh memiliki nilai yang sangat mahal bagi keberlanjutan ekosistem tari di Jambi.
Penyelenggaraan festival independen secara berulang tentu berhadapan dengan tantangan regenerasi organisasi. Perubahan kondisi penggerak utama menuntut adanya mekanisme pewarisan pengetahuan, pengalaman kuratoral, dan kepemimpinan secara cermat. Riuk perayaan panggung tidak secara otomatis menjamin keberlanjutan jika penopang di belakang layar tidak disiapkan secara terencana.
Merawat kehidupan tari tak cukup dengan memastikan sanggar terus menjaga dapur karyanya sendiri. Sebab, ukuran tertinggi dari keberhasilan sebuah sanggar ialah seberapa besar manfaat kehadirannya dapat dirasakan oleh ekosistem di sekitarnya. Lewat konsistensi Lah Puar Jelupung Tumbuh, Sekintang Dayo telah membuktikan bahwa tarian tidak dirawat oleh kemegahan satu nama, tetapi oleh panggung-panggung yang terus dibuka untuk merayakan karya bersama.
Penulis: Oky Akbar (Dosen FKIP UNJA, Sekretaris Yayasan Teater AiR Jambi, Ketua HISKI Jambi)


ak mampu disembunyikan saat momen pengumuman pemenang dilangsungkan melalui pertemuan virtual di platform Zoom. Guru pembimbing pantomim SMPN 18 Kota Jambi, Rani Iswari, S.S., Gr., mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas pencapaian anak-anak didiknya tersebut.