Ijazah dan Arena Pertandingan
“Mau kuliah di mana?” Justru bukan pertanyaan yang paling penting. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, “Maunya bagaimana?”
Kuliah seharusnya menjadi langkah untuk melanjutkan cita-cita. Cita-cita bisa tumbuh sejak kecil, berkembang menjelang dewasa atau justru baru muncul setelah tamat sekolah.
Pilihan jurusan tidak selalu harus mengikuti cita-cita masa kecil. Seseorang bisa masuk kuliah dengan rencana tertentu, lalu menemukan minat baru setelah bertemu lingkungan, ilmu, dan pengalaman yang lebih luas.
Kuliah tidak semata-mata soal mencari jurusan yang punya peluang kerja. Kuliah memberi kesempatan untuk membangun kompetensi. Bekerja dalam tim, berbicara di depan orang banyak, dan belajar memimpin adalah pengalaman yang akan jauh berguna setelah masa kuliah berakhir.
Ijazah bisa dianggap sebagai salah satu tiket untuk memasuki arena pertandingan. Namun, tiket saja tidak cukup. Kemampuan, pengalaman, komunikasi, relasi, keberanian mengambil kesempatan, dan kemauan untuk terus belajar adalah bekal untuk menghadapi pertandingan.
Dunia kerja terus berubah. Pekerjaan bisa saja berbeda dengan jurusan kuliah. Peluang bisa datang dari berbagai arah. Kita hanya perlu berani mencoba dan pantang menyerah.
Kuliah ialah proses memperoleh ilmu, pengalaman, kompetensi, dan ijazah. Ijazah menjadi tiket untuk memasuki arena, sedangkan kompetensi menjadi bekal untuk memenangkan pertandingan.
Penulis: Oky Akbar (Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indoensia, FKIP UNJA)
Editor: Ridho Amanta Rajak
