Ketika Asap Mengganti Oksigen
Hari ini, kepalaku benar-benar penuh dengan segala carut-marut yang terjadi. Sepanjang perjalanan menuju tempat kerja, aku terus berkelahi dengan pikiranku sendiri. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan, tetapi tak satu pun menemukan jawaban.
Sudah hampir tiga bulan kami tak lagi benar-benar menghirup udara segar. Hari demi hari, negeri ini seolah kehilangan kabar bahagia. Bencana terjadi di mana-mana. Gunung yang marah, air yang mengamuk, dan kini api yang menari tanpa henti.
Apa Tuhan harus kembali marah untuk menegur kita?
Awalnya, aku menyebut ini sebagai kesalahan kita. Sebab, kupikir kitalah penyebabnya, kitalah manusia yang paling serakah. Namun, semakin kupikirkan, ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar keserakahan manusia sebagai individu: keserakahan yang dibiarkan, keputusan yang tak kunjung berpihak pada keselamatan, dan tanggung jawab yang seolah kehilangan arah. Di sinilah pemerintah seharusnya hadir, bukan sekadar sebagai pemegang kekuasaan, melainkan sebagai pihak yang bertanggung jawab melindungi masyarakat.
Ya, pemerintah kita!
Pemerintah seharusnya mampu menunjukkan bagaimana persoalan ini akan ditangani. Namun, di tengah bencana yang terus mengusik kehidupan masyarakat, perhatian publik justru kerap tersita oleh kabar pergantian jabatan, pencopotan dan pelantikan serta pernyataan-pernyataan yang terdengar lantang. Sementara itu, ketika rakyat bahkan hanya mengharapkan satu kata, maaf, mengapa mengucapkannya saja terasa begitu berat?
Kami tidak membutuhkan angka-angka dan hitung-hitungan yang tak berujung jika semua itu tidak menghasilkan perubahan nyata. Kami sudah lelah dengan persoalan korupsi, lelang jabatan, narkoba, dan berbagai permasalahan lain yang seolah tak pernah selesai. Kini, ada persoalan yang dampaknya melampaui kepentingan satu kelompok, satu golongan atau satu wilayah. Ini menyangkut semua orang. Ya, sekali lagi, semua orang.
Kami, masyarakat kecil, tetap harus bekerja meski setiap tarikan napas terasa seperti pertaruhan. Kami tetap harus keluar rumah, menjalankan kewajiban, dan mencari nafkah, sekalipun udara yang kami hirup kian mengkhawatirkan.
Apakah mereka melihat apa yang terjadi di jalanan?
Tukang sapu masih menjalankan tugasnya, membersihkan jalanan sambil menghirup udara yang dari hari ke hari semakin memburuk. Orang-orang masih berjualan demi menyambung hidup. Para pekerja masih mengendarai sepeda motor, menyusuri jalan menuju tempat kerja, menumpahkan kekesalan di balik kaca helm dan masker.
Mereka tetap bergerak, bukan karena keadaan baik-baik saja, melainkan karena hidup tidak memberi mereka banyak pilihan.
Di sinilah persoalannya menjadi semakin menyakitkan. Bagi sebagian orang, bencana mungkin hadir sebagai angka dalam laporan, bahan pembicaraan dalam rapat atau persoalan yang dapat dibahas melalui konferensi pers. Namun, bagi kami yang harus tetap keluar rumah, bencana hadir dalam bentuk yang jauh lebih nyata. Udara yang dihirup setiap hari, kekhawatiran terhadap kesehatan keluarga, dan ketidakpastian tentang kapan keadaan akan kembali normal.
Bukankah kita perlu bertobat, lalu mencari solusi agar persoalan ini segera berakhir? Bukankah kebakaran hutan dan lahan bukan masalah yang baru sekali terjadi? Kita sudah berkali-kali mengalaminya. Namun, mengapa kita seolah tak pernah benar-benar belajar? Barangkali, yang kita saksikan hari ini adalah puncak dari kelalaian yang terus dibiarkan menumpuk.
Persoalan ini semestinya membuat kita bertanya lebih jauh: mengapa kebakaran terus berulang, bagaimana pencegahannya dijalankan, dan sejauh mana pihak-pihak yang bertanggung jawab benar-benar dimintai pertanggungjawaban?
Pemerintah memiliki kerangka kebijakan pengendalian karhutla, salah satunya melalui Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan. Peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup juga menyediakan dasar bagi pengawasan dan penegakan hukum. Artinya, persoalan ini bukan semata-mata karena kita tidak memiliki aturan.
Lantas, jika aturan sudah tersedia, mengapa kita masih harus berhadapan dengan bencana yang sama?
Pertanyaan ini tidak serta-merta berarti semua kebijakan gagal atau tidak ada upaya yang dilakukan. Namun, keberadaan aturan saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa masyarakat telah terlindungi. Kebijakan harus dapat dirasakan manfaatnya. Pencegahan harus bekerja sebelum api meluas. Pengawasan harus mampu mengidentifikasi dan menindak pelanggaran. Dan ketika kerusakan terjadi, penanganan serta pemulihan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Pemerintah daerah pun memiliki tanggung jawab yang tidak kalah penting. Di Jambi, misalnya, penanganan karhutla tidak semestinya hanya diukur dari seberapa banyak personel dikerahkan untuk memadamkan api. Kita juga perlu melihat bagaimana informasi kualitas udara disampaikan kepada masyarakat, bagaimana kelompok rentan dilindungi, serta bagaimana layanan kesehatan dan langkah-langkah darurat dipersiapkan ketika pencemaran udara memburuk. Sebab, memadamkan api memang penting, tetapi melindungi manusia yang menghirup asapnya juga sama pentingnya.
Kita bukan hanya sedang menyakiti diri sendiri. Makhluk hidup lain yang rumahnya kita hancurkan mungkin menanggung luka yang jauh lebih besar. Hutan bukan sekadar hamparan pepohonan yang bisa digantikan setelah terbakar. Di dalamnya ada kehidupan, ada rumah, ada makhluk-makhluk yang tak pernah diberi kesempatan untuk memilih atau membela diri ketika tempat tinggal mereka direnggut.
Lantas, apakah kita harus diam? Apakah kita cukup duduk dan menyaksikan semuanya berlalu, lalu kembali menjalani hari seolah tidak pernah terjadi apa-apa?
Setidaknya, kita semua tahu bahwa ada sesuatu yang salah.
Secinta apa pun kita kepada pemimpin hari ini, jika mereka melakukan kesalahan, kita harus tetap berani mengingatkan mereka. Jangan sampai kecintaan berubah menjadi pembenaran atas segala hal. Jangan sampai loyalitas membuat kita kehilangan keberanian untuk mengkritik. Sebab, tidak ada kesalahan yang patut terus dinormalisasi hanya karena kita sudah terlalu sering menyaksikannya.
Kritik bukan berarti membenci. Mempertanyakan kebijakan bukan berarti menolak setiap upaya pemerintah. Justru karena kita menginginkan keadaan yang lebih baik, kita harus berani mempertanyakan apa yang belum berjalan sebagaimana mestinya. Pemimpin tidak seharusnya hanya dikelilingi oleh dukungan, tetapi juga perlu mendengar suara masyarakat yang merasakan langsung dampak dari setiap persoalan.
Ketika sesuatu yang salah terus dibiarkan terjadi, lama-kelamaan kita akan menganggapnya biasa. Kita akan terbiasa hidup dengan asap, terbiasa mendengar kabar kebakaran hutan, dan terbiasa melihat langit kehilangan warnanya. Bahkan, kita mungkin akan sampai pada kesimpulan bahwa semua ini hanyalah kehendak Tuhan, sesuatu yang harus diterima tanpa perlu dipertanyakan.
Padahal, tidak semua yang terjadi berada di luar kendali manusia. Ada perbuatan, ada keputusan, ada keserakahan, dan ada tanggung jawab yang tidak boleh begitu saja diserahkan kepada takdir. Kita adalah manusia yang diberi akal untuk berpikir, tetapi berkali-kali justru membiarkan keserakahan mengalahkan kepedulian.
Hari ini, khususnya di tempatku, Jambi, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) masuk kategori Berbahaya, berdasarkan data yang menjadi rujukan tulisan ini. Angka tersebut bukan sekadar angka di layar. Di baliknya ada orang-orang yang harus tetap bekerja, anak-anak yang harus tetap beraktivitas, keluarga yang mencemaskan kesehatan mereka, dan masyarakat yang tak tahu kapan bisa kembali menghirup udara dengan tenang.
Kategori berbahaya seharusnya tidak berhenti sebagai informasi. Ia semestinya menjadi alasan untuk memperkuat perlindungan masyarakat, menyampaikan peringatan yang mudah dipahami, dan memastikan langkah penanganan berjalan sesuai kebutuhan di lapangan.
Bagaimana dengan saudara-saudara kita di Kalimantan, Palembang, dan Riau? Bagaimana keadaan mereka hari ini? Apakah mereka juga sedang menjalani hari dengan dada yang sesak, pikiran yang penuh, dan kecemasan yang tak tahu harus disampaikan kepada siapa?
Di tengah keadaan seperti ini, masyarakat justru terlihat begitu mandiri. Mereka saling membantu, saling menguatkan, dan bahu-membahu menghadapi keadaan yang tak mudah. Mereka berusaha bertahan dengan segala yang mereka punya. Namun, di mana pemerintah yang mereka pilih dan harapkan untuk hadir ketika keadaan memburuk? Mengapa masyarakat seolah harus terus mengandalkan diri sendiri, sementara kebutuhan mendesak mereka belum tentu terjawab dengan kecepatan dan perlindungan yang mereka harapkan?
Aku menulis ini bukan karena merasa diriku paling benar. Aku juga bagian dari masyarakat yang hidup di tengah segala persoalan ini. Aku pun mungkin pernah terlalu sering menerima keadaan, mengeluh sebentar, lalu kembali menjalani hari seolah semuanya akan berlalu dengan sendirinya. Namun, sampai kapan kita akan terus begitu?
Aku tidak ingin kita terbiasa. Aku tidak ingin asap menjadi bagian yang dianggap wajar dari kehidupan kita. Aku tidak ingin setiap tahun kita mengulang kesedihan yang sama, menyaksikan kerusakan yang sama, dan mendengar janji-janji yang sama tanpa perubahan yang benar-benar terasa. Sebab, udara bersih bukan kemewahan. Ia adalah kebutuhan dasar. Hutan bukan sekadar sumber keuntungan. Ia adalah rumah bagi kehidupan. Dan keselamatan masyarakat bukan sesuatu yang boleh dikorbankan demi kepentingan siapa pun.
Kita tidak seharusnya hanya mengukur keberhasilan penanganan karhutla dari api yang akhirnya padam. Kita juga harus melihat apakah kerusakan yang sama berhasil dicegah, apakah pihak yang bertanggung jawab benar-benar dimintai pertanggungjawaban, apakah lingkungan yang rusak dipulihkan, dan apakah masyarakat memperoleh perlindungan yang layak.
Jika hari ini kita masih bisa bersuara, bersuaralah. Jika kita masih bisa mengingatkan, ingatkanlah. Jika kita masih bisa menuntut pertanggungjawaban, jangan berhenti hanya karena keadaan ini sudah terlalu sering terjadi.
Jangan sampai suatu hari nanti kita benar-benar lupa bahwa pernah ada yang salah. Jangan sampai kita begitu terbiasa dengan bencana hingga tak lagi merasa perlu mencari siapa yang bertanggung jawab dan apa yang harus diperbaiki. Sebab, yang paling menakutkan bukan hanya api yang melahap hutan atau asap yang menutupi langit. Yang lebih menakutkan adalah ketika kita mulai menganggap semua itu sebagai sesuatu yang biasa.
Dan ketika itu terjadi, barangkali bukan hanya hutan yang sedang terbakar. Kepedulian kita pun perlahan-lahan telah menjadi abu.
Penulis: Khairul Ni’mah
Seorang guru muda yang mengajar di SMP Negeri 2 Kota Jambi, dengan selera humor yang tak jarang menyelip di antara keseriusan. Baginya, teater adalah ruang untuk merayakan diri, sedangkan menulis menjadi jalan untuk menumpahkan segala hal yang mengusik pikiran. Saat ini, ia tergabung dalam Teater Air dan terus belajar memahami kehidupan melalui peran, kata, dan kegelisahan yang menjelma menjadi karya.
Editor: Oky Akbar
