MENITI RITUS MENEMPA TUBUH (Sekelumit catatan pengalaman menonton gelar karya Tubuh Ritus)
Ada kalanya tubuh bergerak untuk menguji dirinya sendiri. Seberapa jauh ia mampu menahan beban, menjaga keseimbangan, mengendalikan dorongan, dan bertahan ketika berhadapan dengan sesuatu yang mengancam kestabilannya. Dalam TUBUH RITUS, sebuah garapan tari kontemporer karya Tri Putra Mahardhika yang dipentaskan di Gedung Teater Arena, Taman Budaya Jambi, 20 Oktober 2026, tubuh menjadi pusat penjelajahan artistik tersebut.
Berangkat dari tradisi Niti Antui Suku Anak Dalam, karya ini membawa persoalan tradisi ke dalam bahasa gerak kontemporer. Tri Putra Mahardika yang tumbuh dalam lingkungan akademik ISBI Bandung, menghubungkan tradisi tersebut dengan ujian kedewasaan, pengendalian diri, dan tantangan kehidupan. Dalam konteks itu, tubuh bukan sekadar medium estetis, melainkan tempat berlangsungnya suatu ujian. Bagaimana pengalaman yang berakar pada tradisi tersebut diterjemahkan menjadi pengalaman artistik yang kemudian dapat dirasakan penonton?

Sepanjang pertunjukan berlangsung, para penari membawa tumpukan piring kaca di atas kepala. Ada pula fragmen ketika mereka menyusun batu dan berjalan di atas piring. Gerak berlangsung lambat, hati-hati, dan cenderung minimalis. Dengan dukungan pencahayaan yang membangun suasana remang kebiruan, pertunjukan menghadirkan atmosfer yang terasa magis. Piring kaca menjadi elemen visual yang menonjol. Benda itu rapuh, sementara tubuh yang membawanya dituntut untuk tetap stabil. Gerak sekecil apa pun seolah memiliki konsekuensi. Penari tidak bisa begitu saja menghamburkan energi atau mengubah arah tanpa perhitungan. Tubuh harus mengukur ruang, mengendalikan gerak, dan menjaga keseimbangan.
Pada momen tertentu, gerak lambat bukan semata-mata pilihan tempo. Ia berpotensi menjadi perangkat dramaturgis yang mengajak penonton memperhatikan proses pengendalian tubuh. Ketegangan tidak dibangun melalui ledakan gerak atau perubahan tempo yang drastis, melainkan melalui kemungkinan bahwa keseimbangan dapat terganggu sewaktu-waktu. Susunan batu dan tindakan berjalan di atas piring memperluas pengalaman tersebut. Tubuh berhadapan dengan permukaan, beban, dan ruang yang membatasi keleluasaannya. Yang menarik bukan hanya kemampuan teknis penari mempertahankan posisi, tetapi juga bagaimana gerak menghadirkan kesan bahwa keseimbangan merupakan sesuatu yang harus terus diperjuangkan.
Meski demikian, kecakapan fisik tidak dengan sendirinya menghasilkan kedalaman makna. Tantangan koreografi adalah mengubah keterampilan menjaga keseimbangan menjadi perkembangan pengalaman yang disajikan di panggung. Penonton perlu merasakan bukan hanya kesulitan gerakan, melainkan juga alasan mengapa ujian tubuh itu penting dalam keseluruhan bangunan pertunjukan.
Hal yang menonjol dalam TUBUH RITUS adalah minimnya interaksi antarpemain. Hampir sepanjang pertunjukan, masing-masing penari seolah sibuk dengan tugas tubuhnya sendiri. Mereka hadir dalam ruang yang sama, tetapi tidak banyak membangun hubungan melalui respons gerak, tatapan, atau tindakan yang saling memengaruhi. Keterpisahan ini membuka kemungkinan pembacaan bahwa ujian yang dihadapi merupakan pengalaman individual. Setiap tubuh harus mengendalikan dirinya sendiri, menjaga beban, dan mempertahankan keseimbangan tanpa banyak campur tangan tubuh lain.
Setakat ini, muncul pertanyaan dramaturgis. Jika Niti Antui berakar pada prosesi adat yang memiliki makna sosial, bagaimana dimensi kolektif itu diterjemahkan ke dalam koreografi? Apakah keterpisahan antartubuh memang dimaksudkan untuk menegaskan perjuangan individual atau justru membuat hubungan sosial yang melatari tradisi tersebut kurang terasa? Tentu tari tidak harus menjelaskan konteks tradisi secara literal. Sebuah karya kontemporer, pengkarya berhak mengubah bentuk, menggeser penekanan bahkan menawarkan tafsir yang berbeda dari sumbernya. Akan tetapi, transformasi artistik tetap perlu membangun hubungan yang meyakinkan antara gagasan, komposisi gerak, dan pengalaman penonton. Keterpisahan tubuh dapat menjadi strategi yang kuat apabila menghasilkan ketegangan atau membangun antisipasi terhadap suatu peristiwa. Sebaliknya, apabila pola hubungan itu berlangsung relatif datar, repetisi berisiko menjadi keadaan yang menetap tanpa perkembangan dramatik yang cukup terasa.
Perubahan penting muncul pada adegan menjelang akhir pertunjukan. Para penari menghubungkan tubuh mereka melalui tongkat bambu yang ditempatkan pada bagian perut. Mereka saling menekan, membentuk hubungan fisik yang membuat setiap tubuh berhadapan langsung dengan tekanan dari tubuh lainnya. Adegan ini menjadi menarik justru karena berbeda dari pola interaksi sebelumnya. Jika pada bagian-bagian terdahulu tubuh tampak menjalani ujiannya masing-masing, kini tubuh-tubuh itu terhubung dalam suatu konfigurasi yang menuntut penyesuaian bersama.
Tongkat bambu tidak lagi sekadar menjadi benda yang dipegang. Ia menjadi perantara hubungan sekaligus penyalur tekanan. Gerakan satu tubuh berpotensi memengaruhi posisi tubuh lain. Keseimbangan tidak lagi sepenuhnya menjadi urusan individual, sebab setiap penari harus mempertahankan posisinya dalam hubungan yang saling membatasi. Di sinilah muncul kemungkinan pembacaan yang lebih luas, kemampuan mengendalikan diri tidak selalu cukup ketika seseorang berhadapan dengan orang lain. Ada tekanan yang datang dari luar dirinya, ada posisi yang harus dinegosiasikan, dan ada keseimbangan yang hanya dapat dipertahankan melalui penyesuaian antartubuh. Apakah adegan tersebut hendak menggambarkan perjuangan kolektif, pertentangan, atau ketergantungan? Pertunjukan tidak memberikan jawaban verbal yang pasti. Namun, ketidakpastian itu dapat menjadi produktif selama hubungan fisik yang dibangun mampu menimbulkan pertanyaan yang bermakna bagi penonton.

Sebagai satu-satunya bagian yang secara jelas mempertemukan tubuh melalui tindakan saling menekan, ia memiliki bobot visual yang kuat. Akan tetapi, kekuatan sebuah adegan akhir tidak hanya ditentukan oleh intensitas citranya. Ia juga bergantung pada seberapa jauh pengalaman sebelumnya telah mempersiapkan peristiwa tersebut. Jika keterpisahan para penari sejak awal dibaca sebagai pembangunan jarak menuju pertemuan, adegan tongkat bambu dapat berfungsi sebagai perubahan relasi yang signifikan. Namun, jika hubungan itu tidak memperoleh persiapan yang cukup, ending tersebut berisiko terasa sebagai citra yang menarik tetapi belum sepenuhnya menyatu dengan perkembangan dramaturgi sebelumnya.
Hubungan TUBUH RITUS dengan Niti Antui pada akhirnya tidak cukup dibaca dari kemiripan bentuk gerak. Yang lebih penting adalah bagaimana gagasan yang terkandung dalam tradisi tersebut mengalami transformasi ketika dipindahkan ke panggung. Tradisi dapat menjadi titik berangkat bagi penciptaan tanpa harus direproduksi secara utuh. Koreografer dapat memilih aspek tertentu, memperluasnya, atau mengubahnya menjadi persoalan yang lebih universal. Dalam karya ini, keseimbangan, pengendalian diri, beban, dan tekanan antartubuh menyediakan kemungkinan untuk membaca ujian sebagai pengalaman manusia yang tidak berhenti pada individu.
Perlu dibedakan antara makna tradisi yang terdokumentasi, maksud pencipta, dan tafsir yang lahir dari pengalaman menonton. Ketiganya dapat saling berhubungan, tetapi tidak otomatis identik. Pembacaan terhadap simbol-simbol panggung juga tidak seharusnya menggantikan pengetahuan mengenai konteks budaya masyarakat pemilik tradisi. Di sinilah tantangan tari kontemporer yang berangkat dari tradisi lokal: bukan sekadar bagaimana tradisi terlihat menarik di panggung, melainkan bagaimana transformasi bentuk menghasilkan pengalaman artistik yang tetap memiliki hubungan bermakna dengan sumber penciptaannya.
TUBUH RITUS menghadirkan pengalaman visual yang bertumpu pada gerak lambat, konsentrasi, keseimbangan, dan atmosfer ritualistik. Piring kaca, susunan batu, serta tongkat bambu menjadi elemen penting dalam membangun hubungan antara tubuh dan risiko. Adegan terakhir menawarkan kemungkinan pembacaan yang lebih luas tentang tekanan dan ketergantungan antartubuh. Namun, kekuatan citra visual itu perlu dilihat berdampingan dengan persoalan perkembangan dramaturgi. Minimnya interaksi sepanjang pertunjukan membuat adegan akhir memikul beban besar untuk membangun hubungan antartubuh. Pertanyaan yang tersisa adalah apakah hubungan tersebut telah tumbuh secara bertahap atau baru muncul sebagai peristiwa menjelang penutupan. Ketika lampu padam, para penari tidak lagi terlihat, tetapi persoalan tentang keseimbangan belum tentu ikut berakhir. Tubuh mungkin dapat menjaga dirinya sendiri, tetapi bagaimana ketika keseimbangannya bergantung pada tubuh lain? Ketika setiap tubuh saling memberi tekanan, apakah yang tercipta adalah kestabilan kolektif atau justru kerentanan bersama
TUBUH RITUS akhirnya meninggalkan hal yang layak direnungkan. Keseimbangan bukan keadaan yang selalu dapat dicapai sendirian, dan setiap upaya mempertahankannya selalu berhadapan dengan sesuatu yang lain, beban, batas, atau tubuh-tubuh lain yang berada di sekitar kita.
Penulis: Titas Suwanda
Editor: Oky Akbar
