Santun: Ketika Kotak Saran Bertemu Pantun
Pada era digital yang bergerak serba cepat, arus informasi sering kali mengabaikan kesantunan dan hanya mengejar efisiensi, tidak terkecuali di lingkungan sekolah. Pengumuman mendadak atau pesan singkat di media sosial kerap kehilangan sisi kehangatan, sehingga komunikasi antarwarga sekolah terasa kaku, dingin, dan sekadar formalitas belaka. Etika serta kesantunan dalam menyampaikan gagasan pun perlahan terkikis oleh kebiasaan berkomunikasi yang serba instan.
Di sisi lain, sekolah sebenarnya memiliki sarana komunikasi fisik yang klasik, yaitu kotak saran. Keberadaan kotak saran di lorong-lorong sekolah sejatinya dirancang untuk menampung aspirasi, kritik, dan suara setiap warga sekolah secara aman. Sayangnya, sarana ini kerap berakhir menjadi pajangan bisu yang berdebu, terlupakan, dan tidak lagi hidup karena dianggap membosankan atau sekadar simbolis tanpa interaksi yang nyata.
Melihat dua persoalan tersebut, lahir sebuah gagasan sederhana Santun (Satu Hari Satu Pantun), sebuah proyek kepemimpinan yang digagas oleh mahasiswa PPG Calon Guru Universitas Merangin di SMKN 1 Merangin. Proyek ini berusaha memanggil kembali ‘ruh’ kotak saran yang sempat mati suri, menghidupkannya menjadi sarana komunikasi yang interaktif dipadukan dengan keindahan pantun. Tujuan dari proyek ini sangat jelas, yaitu mengaktifkan kembali fungsi kotak saran di sekolah sebagai wadah penyampai kritik, saran, dan ekspresi yang santun, hangat, serta menyenangkan.
Mengapa harus kotak surat dan pantun?
Kotak surat adalah simbol media fisik yang personal. Pada zaman sekarang, momen menulis pesan di selembar kertas, melipatnya, dan memasukkannya ke dalam celah kotak memberikan sensasi tersendiri, ada jeda untuk berpikir, ada antusiasme, dan ada penghargaan terhadap proses bersuara. Namun, jika hanya mengandalkan kotak surat saja tentu terasa biasa. Di sinilah pantun mengambil perannya sebagai ruh utama. Sebagai kearifan lokal yang sarat nilai estetika dan etika, pantun bukan sekadar susunan rima. Pantun mengajarkan kita untuk menyampaikan niat, kritikan, maupun apresiasi dengan cara yang elok dan beradab. Sampiran membuka jalan, isi menyampaikan pesan.
Gagasan ini disambut hangat oleh Kepala Sekolah SMKN 1 Merangin. Dukungan penuh dari pihak sekolah menjadi angin segar yang membuat proyek ini dapat berjalan dengan lancar dan disambut antusias oleh para siswa. Dampaknya pun terasa nyata dan mengesankan. Kritik yang biasanya disampaikan secara kaku atau malu-malu, kini mengalir menjadi rima yang menghibur, tetapi tetap menyampaikan pesan yang jujur. Salah satu contoh pantun unik yang dimasukkan oleh seorang siswa ke dalam kotak surat berbunyi:
Pergi ke pasar membeli pita,
Jangan lupa beli peniti.
Bagaimana hati tidak tertawa,
Guru menerangkan, muridnya bermimpi.
Bait sederhana di atas membuktikan bahwa ketika kotak surat bertemu dengan pantun, saluran komunikasi sekolah tidak lagi sekadar menjadi tempat menampung pesan, melainkan ruang olah rasa, humor yang sehat, dan apresiasi budaya.
Secara tidak langsung, proyek Santun juga merawat tradisi tutur Nusantara yang kian tergerus zaman. Anak-anak kembali akrab dengan rima, mengasah kepekaan bahasa, sekaligus belajar menyampaikan gagasan dengan tata krama yang baik.
Proyek Santun menjadi sebuah pengingat bahwa inovasi kepemimpinan di sekolah tidak selalu harus berupa aplikasi canggih atau teknologi mahal. Kadang, kita hanya perlu menengok kembali pada akar budaya sendiri.
Tim Pelaksana Proyek SANTUN:
Mahasiswa PPG Calon Guru Universitas Merangin
1. Ridho Amanta Rajak, S.Pd
2. Sinta Afrian, S.Pd.
3. Sri Hastuti, S.Pd.
4. Tasha Bestari, S.Pd.
5. Yulia Zani, S.Pd.
Penulis: Ridho Amanta Rajak (Mahasiswa PPG Calon Guru Universitas Merangin)
Editor: Oky Akbar
