JAMBI YANG MEMBACA, JAMBI YANG MENULIS
Kita tiba pada masa ketika semua orang gemar merayakan literasi. Ada festival buku, lomba menulis, pelatihan, kampanye membaca, dan berbagai kegiatan yang menggambarkan keterkaitan manusia dengan bacaannya. Fenomena itu tentu menggembirakan. Namun, ada pertanyaan yang perlu segera diajukan. Setelah perayaan itu selesai, apakah yang benar-benar tumbuh? Berapa banyak peserta kegiatan yang terus menulis? Berapa banyak naskah yang selesai, diterbitkan, dan menemukan pembacanya? Berapa banyak komunitas yang tetap hidup setelah perayaan-perayaan literasi itu berakhir?
Pertanyaan tersebut bukan untuk mengecilkan arti kegiatan literasi. Persoalannya adalah kecenderungan yang menganggap terlaksananya berbagai kegiatan tersebut sebagai penanda bahwa tujuan dari literasi telah tercapai. Padahal, keramaian sebuah acara tidak otomatis menghasilkan kebiasaan, kemampuan, atau perubahan yang bertahan lama.
Jambi yang membaca belum tentu Jambi yang menulis. Pernyataan ini bukan upaya mempertentangkan membaca dan menulis. Membaca memperluas pengetahuan seseorang. Sedangkan menulis menguji kemampuan seseorang dalam mengolah pengetahuan yang diakuisisinya dari berbagai sumber termasuk dari sumber bacaan menjadi pemikirannya sendiri, lalu pemikiran tersebut ia produksi menjadi tulisan. Persoalannya muncul ketika masyarakat terus didorong menjadi pembaca, tetapi belum memperoleh cukup ruang untuk tumbuh sebagai pencipta gagasan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mencatat Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat Provinsi Jambi sebesar 65,43 pada 2024. BPS juga menyediakan data dari seluruh kabupaten/kota, termasuk indikator pemerataan layanan, kecukupan koleksi, tenaga perpustakaan, dan keterlibatan masyarakat. Data tersebut penting untuk membaca perkembangan layanan perpustakaan dan upaya pembangunan literasi di daerah.
Namun, angka itu tidak dengan sendirinya menjawab pertanyaan tentang seberapa banyak warga Jambi menghasilkan tulisan, menerbitkan buku, mendokumentasikan pengetahuan lokal, atau memiliki akses terhadap pendampingan kepenulisan. Hal-hal tersebut membutuhkan indikator dan data tersendiri. Sampai hari ini, belum ada data terkait dengan menulis.
Di sinilah evaluasi program literasi perlu diperluas. Jumlah buku, perpustakaan, pengunjung, dan peserta kegiatan tetap penting, tetapi tidak cukup menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Kita juga perlu mengetahui apa yang terjadi setelah seseorang membaca buku atau mengikuti pelatihan. Apakah ia terdorong menulis? Apakah tulisannya memperoleh tanggapan? Apakah ia memiliki kesempatan untuk memperbaikinya dan mempertemukannya dengan pembaca? Tanpa pertanyaan lanjutan semacam itu, kita berisiko mengetahui seberapa sibuk program literasi berlangsung, tetapi tidak cukup memahami perubahan yang dihasilkannya.
Membicarakan literasi pada tingkat Provinsi Jambi berarti mengakui bahwa kesempatan masyarakat tidak selalu sama di setiap kabupaten dan kota. Kondisi Kota Jambi tidak bisa begitu saja dianggap mewakili Kabupaten Kerinci, Merangin, Tebo, Bungo, Sarolangun, atau daerah lainnya. Jarak, ketersediaan fasilitas, akses internet, tenaga pendamping, dan kesempatan publikasi perlu diperiksa berdasarkan kondisi masing-masing daerah.
Karena itu, membangun ekosistem literasi provinsi bukan sekadar memperbanyak kegiatan yang sama di semua tempat. Pemerintah daerah bersama seluruh elemen terkait perlu mengidentifikasi kebutuhan setempat, lalu merancang program dukungan yang sesuai. Satu daerah mungkin membutuhkan penguatan perpustakaan dan koleksi bacaan. Daerah lain mungkin membutuhkan kelompok menulis, pendamping penyuntingan, atau akses penerbitan. Di tempat yang kaya tradisi lisan, kegiatan literasi dapat dimulai dengan mendokumentasikan cerita rakyat, sejarah kampung, bahasa daerah, dan ingatan para tetua. Semua itu dapat diolah menjadi cerita anak, esai, komik, naskah pertunjukan, maupun media digital.
Kekayaan budaya Jambi tidak akan otomatis menjadi kekayaan literasi hanya karena diwariskan dari generasi ke generasi. Ia memerlukan orang yang bersedia mendengar, mencatat, menafsirkan, dan menuliskannya kembali. Generasi muda juga perlu diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan baru terhadap warisan tersebut, bukan hanya menyalinnya sebagai peninggalan masa lalu.
Ekosistem literasi tidak tumbuh melalui lembaga yang bekerja sendiri-sendiri. Pelatihan menulis seharusnya dapat berlanjut menjadi kelompok belajar. Kelompok belajar perlu memiliki akses kepada mentor dan penyunting. Karya yang dihasilkan membutuhkan ruang publikasi, sedangkan publikasi memerlukan pembaca yang bersedia berdiskusi dan memberikan tanggapan. Sekolah dapat menyediakan ruang bagi karya murid. Perpustakaan dapat menjadi tempat pertemuan pembaca dan penulis. Komunitas dapat menjaga proses kreatif tetap berlangsung setelah kegiatan berakhir. Media lokal dapat memperluas jangkauan tulisan, sementara pemerintah dapat memperkuat jejaring, pendanaan, dan pemerataan kesempatan. Kolaborasi tidak cukup dinyatakan dalam sambutan atau dituangkan dalam dokumen kerja sama. Ia perlu terlihat dalam hubungan kerja yang nyata: siapa mendampingi penulis pemula, di mana karya dipublikasikan, bagaimana kelompok menulis dipertahankan, dan bagaimana masyarakat di luar pusat-pusat kegiatan memperoleh kesempatan yang sama.
Keberhasilan pun perlu ditinjau secara berkala. Selain menghitung peserta dan pengunjung, penyelenggara dapat mendokumentasikan keberlanjutan komunitas, jumlah karya yang selesai dan dipublikasikan, perkembangan peserta, serta jangkauan program ke berbagai kelompok masyarakat. Pengukuran semacam ini memang lebih rumit daripada menghitung jumlah acara. Namun, kesulitan mengukur perubahan bukan alasan untuk mengabaikannya.
Jambi memiliki sumber pengetahuan yang luas. Jambi memiliki sungai terpanjang, hutan yang luas, kampung-kampung tua, tradisi lisan, bahasa, pengalaman masyarakat, dan perubahan kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Semua itu bukan sekadar objek kebudayaan, melainkan bahan untuk memahami persoalan hari ini dan membayangkan masa depan. Kita perlu membangun literasi yang tidak hanya mengajak masyarakat mengakses pengetahuan, tetapi juga memberi mereka kesempatan untuk menghasilkan dan menyebarkannya. Menulis tidak harus selalu berujung pada buku yang diterbitkan secara komersial. Catatan tentang perubahan lingkungan, cerita keluarga, ulasan bacaan, esai, dan dokumentasi tradisi dapat menjadi bagian dari produksi pengetahuan masyarakat.
Pada akhirnya, kita perlu berhenti terlalu cepat merayakan permulaan. Kegiatan membaca, festival, lomba, dan pelatihan tetap diperlukan, tetapi semuanya harus menjadi bagian dari proses yang lebih panjang. Tujuannya bukan sekadar menghadirkan masyarakat dalam sebuah acara, melainkan membangun kemampuan dan kesempatan agar mereka terus membaca, berpikir, menulis, dan berbagi.
Provinsi yang membaca akan memberikan kesempatan dan kemudahan untuk warganya mengakses sumber-sumber pengetahuan. Provinsi yang menulis memberikan kesempatan dan kemudahan untuk warganya memproduksi pengetahuan. Jambi tidak cukup hanya menjadi tempat buku dibaca. Jambi harus menjadi ruang tumbuh berbagai gagasan. Dimana gagasan itu dituliskan, diperdebatkan, dan diwariskan.
Salam Literasi.
Penulis : Titas Suwanda (Ketua Teater AiR Jambi)
Editor : Ridho Amanta Rajak
