Asal-Usul Penduduk Batin V
Pada awalnya, penduduk Batin V berasal dari 60 tumbi (keluarga) yang hidup rukun, aman dan tenteram di dusun Koto Rayo yang dipimpin oleh Poyang Depati. Merasa tidak aman lagi tinggal di Koto Rayo karena sering mendapat wabah penyakit dan serangan dari wilayah ilir Batanghari, mereka bersepakat untuk pindah mencari pemukiman baru. Untuk, menghilangkan jejak, dusun Koto Rayo dihilangkan secara gaib sehingga tidak bisa dikenali lagi lokasinya.
Untuk mencari pemukiman baru, ke 60 keluarga tersebut menelusuri sungai Tabir hingga ke ujung Tanjung Muaro Semayo. Agar keberadaan mereka tidak mudah ditelusuri, mereka menyebar ke lima lokasi untuk sebagai perkampungan baru.
Sampai di ujung Muaro Semayo, dicarilah lokasi yang cocok untuk dijadikan perkampungan. Setelah ditentukan lokasi yang akan dijadikan perkampungan, dibangunlah perkampungan baru yang diberi nama Tanjung Muaro Semayo, dihuni oleh 19 keluarga. Setelanya, 49 keluarga lainnya terus menelusuri sungai hingga ke hulu Sungai Tabir. Sebanyak 14 keluarga mendirikan dusun Seling, 9 keluarga mendirikan Dusun Kapuk, 13 keluarga mendirikan Dusun Pulau Aro, dan 5 keluarga mendirikan dusun Muaro Jernih.
Masing-masing nama dusun tersebut memiliki arti sesuai dengan keberadaannya. Masing-masing dusun dipimpin oleh seorang Rio Depati.
1. Tanjung Muaro Semayo berasal dari kata semayo yang berarti perjanjian. Di sinilah pertama kalinya ke 60 keluarga tersebut membuat perjanjian setelah meninggalkan Koto Rayo. Kini, Tanjung Muaro Semayo berubah menjadi Rantau Panjang.
2. Dusun Seling, dusun ini diberi nama Seling karena berada diantara Tanjung Muaro Semayo dengan dusun Kapuk. Seling disini sama dengan kata selang.
3. Dusun Kapuk, adalah dusun yang terletak di tengah-tengah dari ke lima perkampungan baru tersebut. Karena posisinya berada di tengah, dusun Kapuk dijadikan sebagai tempat pertemuan atau musyawarah oleh para Rio dalam menetapkan keputusan. Dusun ini dinamai Dusun Kapuk karena banyak ditemukan pohon kapuk di lokasi perkampungan.
4. Dusun Pulau Aro, dusun ini dinamai Pulau Aro karena pada saat mau dijadikan lokasi perkampungan alamnya banyak ditumbuhi batang aro.
5. Dusun Muaro Jernih, terletak didekat Sungai Jernih yang menurut penduduk setempat airnya sangat jernih. Oleh sebab itu, dusun tersebut diberi nama dusun Muaro Jernih.

Dalam perkembangannya kemudian, keturunan ke 60 tumbi dari Koto Rayo tersebut mendiami dusun Rantau Panjang, Rantau Ngarau, Muara Jernih, Pulau Aro, Dusun Kapuk, Kampung Baru, Buluran Panjang, Tanjung Ilir, Rantau Limau Manis, dan Sungai Limau.
Salah satu wujud fisik produk budaya yang dapat ditemukan dari Batin V adalah bangunan tua yang ada di Dusun Lamo. Bangunan tersebut masih terpelihara dan telah ditetapkan sebagai salah satu situs cagar budaya oleh pemerintah.
Sumber: catatan hasil wawancara A. Bakar Manan (almarhum), 1981.
Sumber tulisan: https://www.facebook.com/share/p/1KDyPfaWUN/
Penulis: Jafar Rasuh
Editor: Oky Akbar
