Jembatan Beatrix Brug Sarolangun: Saksi Bisu Kolonialisme Belanda dan Tragedi Kapal Ophelia
Di jantung Kota Sarolangun, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang hingga kini masih menjadi ikon daerah, yakni Jembatan Beatrix Brug. Bagi sebagian masyarakat, jembatan ini hanyalah penghubung antara Pasar Sarolangun dan Desa Sri Pelayang. Namun, di balik lengkungan beton tuanya, tersimpan kisah kelam yang berkaitan erat dengan penjajahan Belanda, tragedi tenggelamnya Kapal Ophelia, hingga perubahan besar sistem transportasi di Kabupaten Sarolangun.
Sebelum Jembatan Beatrix Brug dibangun, masyarakat Sarolangun menyeberangi Sungai Batang Tembesi menggunakan ponton yang ditarik dengan kabel baja (sling).

Pada masa itu, sungai merupakan jalur transportasi utama. Kapal-kapal Belanda rutin melintasi Batang Tembesi untuk mengangkut hasil bumi, menarik pajak, serta membawa pejabat kolonial menuju pedalaman Jambi.
Musibah besar terjadi pada 24 November 1931, ketika Kapal Hekwieler Ophelia, sebuah kapal roda lambung yang dirancang untuk perairan dangkal, melintasi Sungai Batang Tembesi. Kapal tersebut membawa rombongan pejabat kolonial Belanda dan anggota KNIL. Saat melintas, kapal tersangkut kabel ponton penyeberangan sehingga kehilangan keseimbangan, berputar melintang, lalu tenggelam. Peristiwa tragis ini menewaskan puluhan penumpang dan menjadi salah satu kecelakaan sungai terbesar pada masa kolonial di Jambi.
Banyak masyarakat keliru mengenal tragedi tenggelamnya Kapal Ophelia sebagai tenggelamnya Kapal Wilhelmina. Padahal berdasarkan arsip sejarah, nama kapal yang sebenarnya adalah Hekwieler Ophelia. Nama Wilhelmina kerap disebut karena tragedi terjadi pada masa pemerintahan Ratu Wilhelmina. Kekeliruan lisan ini terus diwariskan secara turun-temurun hingga sekarang.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban, pemerintah kolonial membangun Monumen Kapal Ophelia pada tahun 1932. Monumen tersebut masih berdiri hingga kini dan menjadi salah satu bukti sejarah penting di Sarolangun.
Tragedi Ophelia menjadi titik balik pembangunan infrastruktur di Sarolangun. Pemerintah kolonial menyadari bahwa sistem ponton dengan kabel sling sangat membahayakan lalu lintas kapal. Oleh karena itu, pada 1937 dimulailah pembangunan sebuah jembatan permanen yang membentang di atas Sungai Batang Tembesi. Proyek ini dikerjakan oleh kontraktor N.V. Nedam dari Batavia melalui proses tender Departemen Pekerjaan Umum Belanda dengan biaya sekitar 146.800 gulden. Biaya pembangunan bersumber dari pajak masyarakat dan hasil ekspor karet. Proses pembangunannya juga melibatkan banyak pekerja dari Pulau Jawa yang bekerja dalam kondisi berat, sebagian di antaranya melalui sistem kerja paksa (rodi).
Pada tahun 1938, pemerintah kolonial menamai jembatan tersebut “Beatrix Brug” sebagai penghormatan atas kelahiran Putri Beatrix Wilhelmina Armgard, cucu Ratu Wilhelmina. Nama tersebut kemudian diabadikan pada sebuah prasasti batu granit bertuliskan “BEATRIX BRUG” yang hingga kini masih dapat ditemukan di salah satu sisi jembatan. Setahun kemudian, tepatnya pada 1939, jembatan resmi dibuka untuk umum.
Secara fisik, Jembatan Beatrix memiliki panjang sekitar 197 meter, lebar 4 meter, serta 4 lengkungan beton khas arsitektur kolonial Belanda. Pada masanya, jembatan ini merupakan jalur strategis yang menghubungkan wilayah Jambi menuju Sumatera Barat di bagian utara dan Sumatera Selatan (melalui Lubuklinggau) di bagian selatan. Kehadirannya mempercepat arus perdagangan dan menjadi salah satu infrastruktur terpenting di wilayah pedalaman Jambi.
Pada tahun 1973, struktur Jembatan Beatrix mengalami kerusakan sehingga tidak lagi digunakan sebagai jalur utama kendaraan. Pemerintah Indonesia kemudian membangun jembatan baru di sampingnya. Meski demikian, Jembatan tersebut tetap dipertahankan karena nilai sejarahnya yang tinggi. Setelah dipugar pada awal tahun 2000-an, jembatan dialihfungsikan sebagai destinasi wisata sejarah ikonik di Kabupaten Sarolangun.
Lebih dari delapan dekari berdiri, Jembatan Beatrix bukan sekadar bangunan tua peninggalan kolonial. Jembatan ini adalah saksi bisu perjalanan Sarolangun, mulai dari masa penjajahan Belanda, tragedi tenggelamnya Kapal Ophelia, pembangunan infrastruktur modern, hingga perkembangan daerah menjadi kabupaten yang terus tumbuh. Setiap lengkung beton dan batu prasastinya menyimpan cerita bernilai tinggi yang patut dikenang dan diwariskan kepada generasi mendatang agar sejarah Sarolangun tidak hilang ditelan zaman.
Sumber tulisan: Postingan Reedho Khamizuka II (Facebook)
Penulis: Reedho Khamizuka
Editor: Ridho Amanta Rajak
